| Watak dan Watuk |
|
|
|
| Saturday, 14 February 2009 13:58 | |||
|
Watak dan Watuk Oleh : Paulus Bambang WS Sidang Pembaca SWA People Change. Singkat dan padat untuk dijadikan jawaban pamungkas bila tak mampu memahami perubahan perilaku kolega kita. Kalau arah perubahan dari negatif ke positif, kalimat itu diucapkan dengan intonasi sopran atau tenor dengan senyum simpul tanda asa baru. Sebaliknya, bila perubahan ke arah negatif maka intonasinya menjadi alto atau bas dengan nada getir tanda tak mahfum. Sayangnya, kebanyakan orang bergerak positif negatif tak beraturan. Kalau angin lagi ke arah positif, maka iapun ikut terseret positif. Sebaliknya juga begitu, sehingga muncul sindiran macam bunglon dan oportunis untuk konotasi negatif dan fleksible dan adaptif untuk konotasi positif. Idealisme sewaktu mahasiswa atau dosennya mahasiswa dengan teriakan reformasi seakan sirna tak berbekas tatkala sudah duduk di birokrasi. Korupsi bukan menjadi lawan lagi. Dengan intelektualitas yang lebih tinggi, korupsi ditelikung dengan gaya yang jauh lebih canggih dan 'soft' dibanding era sebelumnya. "Kan bukan untuk kepentingan pribadi" , jawabnya tanpa rasa bersalah. "Itu hanya sumbangan wajar untuk yayasan istri saya", adapula yang lugu berargumen begitu. 'Kok cepat berubah yah", sergah teman tak percaya. "People change", jawabku pendek. Iapun mengangguk lesu. "Dulu, ia adalah seorang yang ....... ", adalah ungkapan perubahan kearah yang tak sesuai dengan harapan bila dihubungkan dengan perubahan perilaku. "Ia sudah sukses, terhormat, kaya dan memiliki segalanya. Sayang ia tidak seperti yang dulu kita kenal', ungkapan lain dari seorang yang kehilangan kehangatan seorang sahabat. Bukannya bangga memiliki sahabat yang sukses tapi mengelus dada, karena ia tidak seperti yang dibayangkannya. People change. Kala sang idola berubah, pengidola juga cepat berubah. Idola yang menjadi panutan karena budi pekerti dan anti poligami berubah menjadi alergi pengidola tatkala sang idola dengan terpaksa harus menikah lagi. Simbol politisi yang bersih dan idealis langsung tersungkur menjadi cercaan pengikutnya hanya karena menerima dana nonbujeter. Kalau sang pemimpin bisa berubah, pengikutpun bisa berubah. Sekali lagi 'people change'. Pertanyaannya kenapa ada yang cepat berubah dan kenapa ada pula yang mampu bertahan ? Ada yang sangat cepat 'menyesuaikan diri' dengan lingkungan, ada pula yang mencoba terus bertahan terhadap pencemaran lingkungan dan adapula yang mampu merubah lingkungan. Reposisi itu bukan soal kesempatan dan kemampuan tapi soal kemauan. Ada sistim nilai di relung hati yang paling dalam yang bekerja saat situasi dan kondisi sangat kondusif untuk netral, melakukan dan tidak melakukan. Dalam bahasa filosof, itu adalah sesuatu yang 'rooted' dan 'grounded' dalam hati manusia. Dalam bahasa orang manajemen itu adalah karakter. Sedang saya senang menyebut sebagai watak. Kalau perubahan itu karena faktor watak, yang acap kali baru muncul setelah ada kesempatan, kemampuan dan kemauan, maka ia menjadi perubahan yang permanen. Kalau seseorang memiliki watak penggerak kehidupan yang berorientasi pada kekayaan materi, maka seluruh aktivitas, koneksivitas dan kolektivitas dihubungkan dengan azas 'return on investment' dan 'what's in it for me'. Karya kehidupannya tak jauh dari mamon yang disebut uang. Perilaku akan berubah ketika menghadapi orang dengan tingkat kepemilikan kebendaan yang berbeda. Orang hanya menghormati orang yang lebih kaya dari dirinya. Bisa bersikap merendah dan mengagumi hanya kalau orang itu makmur. Sikap tutur kata dan oleh gerak menjadi sangat sopan hanya karena tamu terhormat itu memiliki harta. Seluruh perilaku berubah tatkala berhadapan orang yang lebih berada. Dan itu bisa terjadi dalam bilangan detik tatkala ketemu dengan kolega di kala reuni semasa SMA. People Change. Kalau wataknya adalah haus akan kekuasaan, maka ia akan tunduk pada orang yang lebih berkuasa atau yang mampu mendudukkan ia pada kursi kekuasaan. Teman bisa diubah menjadi lawan kalau itu menghambatnya memperoleh kursi kekuasaan. Sahabat sejatinya adalah kekuasaan. Itu artinya bermain dalam politik menang kalah. Berkuasa atau dikuasai. Janganlah rekan pemasok, pelanggan dan kolega, pimpinan langsungpun sering dilibas kalau ia mampu masuk ke akses pimpinan dari pimpinannya. Dan itu bisa terjadi dalam bilangan bulan tatkala ia harus mulai unjuk gigi kekuasaannya. People Change. Namun kadang perubahan perilaku bukan karena perubahan karena watak. Ia terpaksa harus berubah untuk suatu saat mampu mengubah. Atau ia berubah karena ketidak mampuan dalam mengubah kondisi lingkungan. Ia diubah keadaan. Tak mampu bertahan apalagi mengubahnya. Ia masuk pada kategori kena penyakit watuk (batuk dalam bahasa jawa). Sebagai orang sakit, ia bisa lemah, lesu, lelah, letih dan kelihatan kalah. Tapi perubahan itu hanyalah sementara. Kalau ia sudah sehat, maka ia akan kembali seperti yang dulu. Memang sulit untuk tidak tertular watuk kalau lingkungan sedang kena endemi influensa. Apalagi kalau ia bermaksud menolong yang sakit flu, ia harus berani terkena flu sekalipun ia bermaksud menolong si penderita. Kalau ia ceroboh akan mudah tertular, kalau tidak bukan tidak mungkin ia tetap imun. Lingkungan bisnis, politik dan birokrasi boleh korupsi tapi itu bukan berarti kita boleh ikut melakukannya. Banyak pengusaha menekan karyawan, bukan itu yang menjustifikasi kita melakukan yang sama agar kita bisa kompetitif di pasar. Banyak yang memalsukan merk luar negeri di produk lokal, tapi itu bukan contoh yang harus ditiru untuk tetap 'survive'. Tidak ada yang sempurna melawan pengaruh lingkungan. Yang jadi masalah kalau lingkungan yang buruk merubah watak kita. Kalau sekedar tertular 'watuk' masih ada obatnya. Kalau sudah kearah 'watak', setan-pun tak mampu mengontrolnya apalagi seorang manusia yang berpangkat pimpinan. Yang ini sudah urusan Tuhan sang Pencipta.
|
|||
| Last Updated on Wednesday, 09 September 2009 17:17 |